Kepastian Yang Tertunda

Hampir berbulan-bulan bahkan hampir satu tahun mungkin saya tidak mengisi blog saya ini dengan sebuah tulisan. Sebenanrnya ingin sekali menulis setiap minggunya, namun kesibukan semasa kuliah S2 ini membuat management waktu yang perlu di tata kembali.

Oh iya.. saat ini saya sudah memutuskan melanjutkan studi S2 saya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan spesialisasi elektroanalitik di Bidang Kimia. Saya memutuskan mengambil Dalam Negri (DN) karena beberapa hal salah satunya scholarship yang saya peroleh tidak bisa di alihkan ke kampus Luar Negri (LN). Agak sedikit kecewa memang, ketika saya sudah diterima di salah satu kampus di Jepang yaitu Osaka University (OU) tapi saya tak bisa melanjutkan pendidikan saya di sana.

Namun, saya yakin bahwa Allah subhana wa ta’ala selalu ikut campur dalam segala urusan saya. Saya yakin bahwa ada sebuah proses yang harus terus di jalani oleh seorang manusia sebagai hamba-Nya. Proses ini akan memberi pelajaran di setiap peristiwa yang terjadi pada diri kita dan sebaiknya kita sebagai hamba-Nya terus menela’ah atas kehendak yang Allah berikan kepada kita.

Saya rasa tak ada gunanya kita menggerutu dan terus mengeluh seakan-akan takdir ini tak adil pada kita. Yang perlu dilakukan adalah kita menjalani proses tersebut dan meyakini bahwa ketetapan yang telah Allah berikan pasti merupakan ketetapan yang baik menurut pandangan-Nya.

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS.Ibrahim(14):7).

Namun, memang melakukan atau action itu tidak semudah berkata. Kata hanya terdiri dari sebuah susunan huruf yang mudah diucapkan. Beda halnya dengan sebuah tindakan, tindakan memerlukan niat yang ikhlas dan bersungguh-sungguh untuk bisa maksimal dalam melakukannya.

Oh iya satu hal lagi, Allah itu sudah mempunyai jalan yang begitu indah untuk kita jalani. Kita hanya perlu menunggu kepastian yang tertunda dari rangkaian proses Nya.

 

Salam,

Ganjar Fadillah

Mahasiswa S2 Kimia Analitik, Institut Teknologi Bandung

Iklan
By Al-Kaimiyah Project

The Green Hybrid Solar Technology

Energy is one important thing in our life. Life cannot exist without energy. Movement requires energy as well. For example, all forms of transportation, from walking to flying in an airplane, require converting energy into movement. Because of this, energy is a core part of civilization. Without transportation, trade is impossible. Modern civilization depends on being able to harness and use energy effectively to generate electricity and to enable transportation. But over consumption energy specially source from fossil fuel can provide dangerous environmental issue. all tell us that burning fossil fuels is causing dangerous changes to the climate, we think it’s time to get serious about clean energy. It also means supporting safely operating hybrid solar cell power plants that produce carbon-free electricity.

Hybrid solar power technology work as the alternatives model to decentralized electricity generation. The hybrid solar technology has a potential to development for next decade because it can be renewed and the best thing about them is they will not reduce any amount of energy resources they use for generating electricity. The Hybrid solar power generation for example, will no reduce any amount of sun radiation on Earth to produce electricity, unlike fossil fuel generation plant. Beside that, hybrid energy generation is more important because the wind not floe continuously and sun radiation is only present approx. 8 to 10 hours in a day. So for continuous power it is important to hybridize the solar and wind power with the storage batteries.

According to many renewable energy experts, a small “hybrid” technology that combines home wind electric and home solar electric  (photovoltaic or PV) technologies offers several advantages over either single system. A hybrid energy solution smoothes out the highs and lows of energy generation periods due to seasonality as solar irradiation and wind speeds change throughout the course of the year. A truly hybrid solution will compensate for seasonal losses of power generation not solely depending on one type of renewable energy system. It is easy to see that the combination of wind and solar is a natural one, and one which is complementary on a seasonal basis.

JyotiKant and Hari (2014) reported that the hybrid technologies are very high and it is very reliable for both ruler and urban areas. And the most important to development the system is cost. Installation cost of 100 % hybrid system is very costly, so the hybrid technologies have potential for next decade generation. Furthermore, to improve the efficiency of hybrid system can be done with the modification of material solar system (Chandraprabha et al, 2015). My research about synthesis nanomaterial for solar cell device reported that modification of material can improve the efficiency of the system. In addition, the research related to the development of the efficiency of solar cells and hybrid technology is currently a topic of interest and a lot of studied. This shows that in the next 10 years this technology will be the technology is ready, and replace fossil fuel to generate environmentally friendly electricity. Maybe, In commercial and industrial sectors the systems are used in rural offices or small tourist hotels where power shortage is chronic. It can be used in schools especially in rural and urban fringe areas. In fact, for hybrid solar energy to achieve its potential, desert hybrid solar-wind power plant construction costs will have to be further reduced via technology improvements, economies of scale, and streamlined assembly techniques. Development of economic storage technologies can also lower costs significantly. According to renewable energy department, a desert hybrid solar power plant covering 10 square miles. Thus, desert-based power plants can provide a large share of the nation’s commercial energy needs.

Reference :

Chandraprabha, Namrata Singh, Shalini Thakur, and Rituraj Karan. (2015). Current Stature and Future Outlook of Hybrid Renewable Energy System. ational Conference on Renewable Energy and Environment (NCREE-2015) IMS Engineering College, Ghaziabad Vol. 2, Special Issue 1.

JyotiKant and Hari Kr Singh. (2014). Scope and Potential of a Hybrid Solar & Wind Energy System for Jodhpur Region, Case study. International Journal of Science and Research (IJSR), Vol. 3 Issue 6.

National Renewable Energy Laboratory, http://www.nrel.gov/gis/maps.html, accessed December 25, 2016.

Masdar Clean Energy, http://masdar.ae/en/energy/international-projects, accesed December 24, 2016

#WorldIn2026
2017 Masdar Engage Blogging Contest

By Al-Kaimiyah Project

Extrance Exam & Interview Osaka-U, Jepang

     “Nothing is impossible. Anything can happen as long as we believe.”

    Menuntut ilmu di Negeri Sakura (red:Jepang) adalah salah satu impian saya. Mengapa saya memilih Jepang? Kita tau bahwa Jepang adalah salah satu negara dengan kemajuan teknologi yang pesat dan maju dalam bidang sains, selain itu juga Jepang adalah salah satu negara dengan peraih nobel terbanyak di Asia.

     Sebenarnya bukan kali pertama saya mencoba mendaftar Universitas di Jepang. Sejak lulus dari Sekolah Analis Kimia, sebenanarnya saya tertarik untuk melanjutkan pendidikan S1 saya di Jepang. Tetapi qadarullah, rezeki saya masih di Indonesia sehingga saya melanjutkan pendidikan S1 saya di Kimia, UNS (Universitas Sebelas Maret), Solo. Selama kuliah saya sering menghadiri seminar-seminar beasiswa khususnya para mahasiswa yang kuliah di Jepang. Dari berbagai informasi itu saya simpulkan bahwa mencari profesor adalah point sangat penting untuk melanjutkan study ke Jepang.

     Lulus dari S1 adalah momentum bagi saya, saya mencoba menghubungi salah satu profesor yang ahli dalam bidang analytical chemistry di Osaka University, Jepang. Tak menunggu lama saya mendapat balasan email dari beliau dan mendapatkan respon positif. Tetapi pendaftaran S2 di sana sudah di tutup/belum di buka ketika saya menghubungi beliau. Satu hal lagi, beliau menjelaskan bagaimana mahalnya biaya di Jepang sehingga saya di sarankan mendapatkan beasiswa. Langkah awal yang cukup baik menurut saya, mendapatkan respon yang baik dan beliau begitu peduli terhadap saya.

     Beberapa bulan berlalu, saya sibuk bekerja dan sedikit lupa akan email itu. Tetapi beliau menghubungi saya dan memberi tau pendaftaran telah di buka Desember 2015. Satu hal yang patut saya syukuri bahwa beliau mengirimkan saya LoA (Letter of Acceptance) conditional ke saya. Saya tak mau mengecewakan beliau akhirnya saya mempersiapkan dan mendaftar dalam program SISC (Special Integrated Science Course) Osaka University.

     Semua dokumen, rekomendasi 2 profesor asal Indonesia, statment of purpose dan LoA conditional saya kirimkan ke pihak admission office Osaka. Beberapa minggu pihak Osaka-U menghubungi saya dan mengundang saya untuk mengikut ujian masuk tes bidang kimia (Kimia Anorganik-Analitik, Fisik dan Organik) serta teleconference interview. Jujur ini adalah pengalaman pertama bagi saya, walaupun sebelumnya saya sempat mendaftar di KFUPM (King Fahd University of Petroleum and Minerals) Saudi Arabia, tapi seleksi ujian masuknya sangat berbeda hehe. Bermodal internet saya mencoba mencari tau dari berbagai mahasiswa di Jepang sistem interview yang digunakan seperti apa. Saya mencoba me-list beberapa persiapan yang harus dilakukan dan jenis pertanyaan.

    Hari ujian masuk pun tiba, ujian dilaksanakan secara serentak di Indoensia tepatnya di ITB dan di Jepang tepatnya di Osaka-U. Secara pribadi, saya kagum melihat gambaran tempat berkuliah di sana melalui skype, tempat yang bersih dan teratur nampak terlihat di layar. Dan satu hal, semua peserta datang di waktu yang tepat sepertinya Jepang sudah terkenal dengan kedisiplinannya. Secara pribadi, extrance examination saya merasa tak bisa maksimal. Banyak sekali soal-soal yang tidak bisa saya kerjakan khususnya dalam bidang Kimia Fisika (Termodinamika). Ya, mau bagaimana ini memang kemampuan dengan persiapan yang mendadak (belajar di selingan waktu sepulang bekerja).

     Tapi, hal yang di luar dugaan saya adalan interview. Saya berfikir interview lebih mengarah ke arah personality dan motivation. But this is the wrong mindset haha. Saya di hadapkan dengan 4 orang Profesor yang ahli dalam bidang Kimia dan 1 orang calon sensei saya. Sungguh pertanyaan di luar dugaan saya, saya benar-benar di tanya secara teoritis kimia seperti Kimia Organik saya di tanya subsitusi nukleofilik di aromatik, pengarah ortho, metha dan para dan masih banyak ; Kimia Fisik terkait HK. Termodinamika 1,2,3 dan lain-lain ; Kimia Anorganik terkait VSPER , bond order. Memang sangat di luar dugaan dan saya saat itu pasrah sekali dengan semua jawaban saya.

     Pengalaman ini sangat berharga bagi saya untuk ke depannya. Bukan lagi masalah lulus dan tidaknya bagi saya, tetapi lebih apa yang saya dapat setelah proses ini. Manusia hanya bisa berusaha sesuai dengan kemampuannya. Tentu saja, Allah yang tetap menentukan, Allah lah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu yang menimpa hambanya. Bahkan Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, semuanya tentu mengandung hikmah dan tidak ada yang sia-sia. Allah SWT berfirman: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah (hanya sia-sia saja). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka…” (Ash-Shaad [38] : 27).

Begitu juga disaat Allah memberikan manfaat (kebaikan) atau suatu kesulitan (musibah) pada seseorang, tentunya hal ini juga pasti mengandung hikmah didalamnya. Untuk itu kita harus selalu berhusnuzhan (berprasangka baik) terhadap segala sesuatu yang telah Allah tetapkan kepada para hamba-Nya dan apapun hasilnya hasil ujian ini semoga saya termasuk orang-orang yang bersyukur, aamiin.

 

Salam,

Ganjar Fadillah

Alumni Kimia UNS dan Awardee LPDP Afirmasi Batch 3 

By Al-Kaimiyah Project

Perjalanan Magister 1 : Beasiswa LPDP

LPDP atau Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan merupakan salah satu beasiswa yang cukup banyak diminati oleh pelajar Indonesia bagi yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan doktoral. Termasuk saya pribadi, beasiswa ini memang sudah saya ketahui bahkan sudah sedikit demi sedikit saya pelajari semasa saya kuliah di S1. mempelajari bagaimana mekanisme seleksinya dan tentu saja persyaratan untuk mendaftar beasiswa ini baik Dalam Negeri (DN) maupun Luar Negeri (LN).

Melanjutkan pendidikan ke jenjang magister bahkan doktor memang menjadi impian dan target dalam kehidupan saya. Tentu saja pola pikir di jenjang magister dan doktoral akan lebih di tuntut dibandingkan dengan S1. Satu hal yang saya syukuri bahwa kuliah telah mengubah banyak pola pikir saya. Di masa-masa akhir studi S1 saya lebih giat mempelajari beasiswa LPDP ini. Sekedar info beasiswa ini di buka 4 kali dalam setahun yaitu Februari, Mei, September dan November. Persyaratan sudah saya tulis di buku sakti saya termasuk english proficiency TOEFL/IELTS yang diperlukan dan satu lagi ternyata beasiswa ini memerlukan ijazah dan transkip nilai.

Saya memang berencana mendaftar beasiswa LPDP di awal tahun 2016, tetapi saya mendapat kabar dari  seseorang bahwa pendaftaran beasiswa ini diperpanjang hingga awal bulan  Oktober. Angin segar ini sungguh sangat benar-benar menyegarkan. Saya langsung menyiapkan semua persyaratan yang diperlukan seperti Ijazah, transkip nilai, sertifikat bahasa inggris (TOEFL/IELTS) resmi dari ETS, Surat sehat dan bebas narkoba dari instansi pemerintah, surat rekomendasi profesor dan tokoh masyarakat yang tentu saja sangat mengenal akademis dan kegiatan kita, surat pernyataan dan 2 Esai (Kontribusiku untuk indonesia dan Sukses Terbesar dalam Hidupku). Oh iya.. satu lagi sertifikat prestasi nasional/internasional dan beberapa publikasi artikel terindeks scopus pun saya lampirkan karena saya mendaftar jalur prestasi nasional/internasional. Semua dokumen saya upload di web LPDP dan tinggal menunggu pengumuman. (Check lengkap persyaratan bisa di web wwww.lpdp.depkeu.go.id)

Sekitar bulan November saya mendapat kabar dari tim LPDP melalui email dan akun pribadi yang menyatakan bahwa saya lolos administrasi. Beberapa persyaratan terbaru termasuk dokumen-dokumen asli yang saya upload mulai saya persiapkan. Minggu-minggu menjelang seleksi tahap selanjutkan memang berat bagi saya karena harus bolak-balik Semarang-Bandung untuk mengurus persyaratan yang baru seperti SKCK dan tentu saja ketika hari H seleksi. Saya putuskan hanya izin 1 hari saja, jadi saya berangkat Selasa malam dari Semarang sampai Bandung Rabu Pagi dan langsung ke tempat ujian di Kementrian Keuangan Kota Bandung. Sampai di TKP, saya melihat peserta lain sudah berkumpul dengan pakai rapi dan wajah penuh optimis. Coba bandingkan dengan saya penampilan seperti apa, mata ada garis hitam (bayangkan sendiri ya..). Bi’idznillah pokoknya, saya hanya bisa berusaha semaksimal mungkin soal hasil biar Allah yang menentukan.

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d : 11)

Sedikit sharing bagaimana seleksi tahap ini. Jadi tahap ini terbagi 3 seleksi yaitu on the spot writting essay, LGD  (Leaderless Group Discussion) dan wawancara.

On the spot writting Essay

Pada seleksi ini peserta akan diberikan topik secara acak entah bidang sosial, politik, ekonomi, teknik dan sains. Dan saya mendapatkan tema mengenai bidang sosial tepatnya konflik antar agama di Papua. Peserta diberikan waktu 30 menit untuk menuliskan esai. Saran saya tuliskan esai-esai dengan sudut pandang netral dan membangun (red:positif) dan jangan lupa berdoa. 5 Menit pertama saya gunakan untuk membuat mind map yang akan saya tulis karena hal ini membuat saya lebih mudah dalam menulis dan membuat keterpaduan antar paragraf yang cukup lumayan di waktu yang singkat seperti itu.

LGD (Leaderless Group Discussion)

Selesai seleksi on the spot writting essay, seleksi berikutnya adalah LGD. Di seleksi ini, peserta akan di bagi dalam beberapa kelompok tim LGD (satu kelompok terdiri 8/9 orang dengan berbagai disiplin ilmu). Pada seleksi ini satu tim kelompok akan diberikan suatu tema secara acak pula. Waktu yang diberikan relatif panjang sekitar 50 menit (10 menit untuk membaca materi/berita yang akan didiskusikan dan 40 menit untuk berdiskusi). Saran saya karena ini LGD bukan FGD jadi usahakn jadi terlalu mendominasi, ketika berpendapat jangan terlihat menjatuhkan orang lain walau sekalipun tidak sependapat cobalah cari bahasa yang lebih halus. Sesi ini adalah milik kita, LGD ini hanya di awasi oleh 2 orang psikolog yang hanya mengamati kita. Perbanyak membaca berita-berita terbaru yang sedang menjadi hot issue di Indonesia.

Wawancara

Wawancara bisa dibilang adalah seleksi inti dari tahap ini. Tapi, jangan meremehkan essay dan LGD. Tetap harus memberikan usaha semaksimalkan mungkin. Wawancara akan dihadapkan dengan 3 orang (1 orang dibidang study kita, 1 orang psikolog dan 1 orang dari pihak LPDP). Saya tak akan banyak bicara di sesi ini karena setiap orang berbeda-beda. Sedikit saran be your self, be honest, more learn about your vision and mission, your social activity and everything about your self. Jujur saya pribadi seperti di jatuhkan berkali-kali oleh psikolog di sini, memancing emosi tetapi saya mencoba mengontrol emosi saya dengan tersenyum 🙂

Wawancara adalah penutup tahap ini. Jujur secara pribadi saya merasa tak maksimal di seleksi ini, kurang persiapan tapi waktu sudah berlalu. Saya hanya berdo’a dan meminta restu orang tua. Tak sabar menanti pengumuman hasil seleksi ini. Hari pengumuman seleksi pun tiba tepat 10 Desember 2015, hari yang dinanti-nanti ini karena akan menjadi jawaban melanjutkan magister atau tidak.

Sesekali saya mengecek email dan HP tetapi tak ada email dari pihak sana. Hampir berputus asa memang, tetapi tetap optimis dan yakin bahwa saya bisa S2 entah melalui beasiswa LPDP ini atau yang lain. Email yang ditunggu-tunggu masuk dan hasilkan selamat Anda dinyatakan LULUS. Rasa bersyukur saya ucapkan, bersyukur kepada Allah Subhana wa ta’ala karena dia yang Maha Berkehendak, orang tua, teman-teman kuliah dan komunitas terima kasih atas segala dukungannya. Semoga ilmu ini akan bermanfaat kelak untuk umat aamiin

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban yang artinya “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman : 13)

LPDP

Email pemberitahuan kelulusan dari pihak LPDP

Semarang, 12 Desember 2015

Ganjar Fadillah

Alumni Kimia FMIPA UNS dan Awardee LPDP Afirmasi Batch 3 2015

By Al-Kaimiyah Project

Ceker Ayam sebagai Pengawet

…You will never know the true answer, before you try….

Sedikit berbagi pengalaman riset saya mengenai ceker ayam sebagai pengawet. Jujur riset ini terinsipirasi dari tidur. Saya memang seperti itu, terkadang suka bermimpi yang sedikit ekstream tidak seperti dunia walk disney yang bermimpi di sebuah kerajaan dan pergi ke hutan dengan kuda putih yang gagah.

Menurut saya mimpi adalah skenario dari sugesti yang kita pikirkan. Memang benar, sebelum tidur saya sempat membaca maraknya penggunaan formalin untuk mengawetkan daging ketika menjelang hari raya besar. Miris memang, di saat orang-orang seharusnya bahagia tanpa sadar mereka di racuni secar diam-diam.

Melihat semua itu, saya bermimpi mengembangkan pengawet dari ceker ayam ini dengan memanfaatkan gelatin menggunakan sistem hidrogel. Saya sedikit copas tulisan mengenai riset saya ini yang telah dimuat dalam beberapa media lokal

———-

Ganjar mengungkapkan, untuk mendapatkan gelatin, ceker ayam memang harus diolah terlebih dahulu dan diambil proteinnya. Berdasarkan penelitian, protein dalam kandungan ceker ayam mencapai 22,92 persen. Nah, untuk mendapatkan serbuk pengawet, ketiganya melakukan beberapa proses.

“Ada dua macam proses, yakni hidrolis basah dan asam. Namun yang dipilih adalah proses hidrolis asam dengan menggunakan asam klorida,” Ganjar mengimbuhkan.

Menurut Ganjar, proses hidrolis asam, menggunakan teknik degreasing, yakni membersihkan lemak atau kotoran yang menempel. Setelah bersih dari lemak, ceker ayam lalu direndam dengan HCL berkonsentrasi 3-5 persen selama dua hari. Perendaman ini bertujuan melunakkan tulang ceker ayam.

Tahap selanjutnya adalah ekstraksi untuk mengambil gelatin. Gelatin yang terkumpul lalu dikeringkan dengan oven bersuhu 100 derajat celcius.

“Dari hasil gelatin, didapat 9-10 persen dari berat ceker ayam. Atau, satu ons ceker ayam akan menghasilkan satu gram gelatin dalam bentuk serbuk,” jelasnya.

Untuk mengawetkan daging atau ikan, serbuk gelatin tadi dicampur air dengan perbandingan 1:1. Kemudian, oleskan cairan serbuk gelatin itu ke daging atau ikan hingga tertutup rapat.

———

If you have any quetions, please don’t hesitate to contact me by email or leave your comment on the post. I always welcome to open discuss about it.

Salam, mari kita bangun ketahanan pangan nasional di Indonesia. Semangat berkarya anak muda.

IMG-20140210-00446

 

By Al-Kaimiyah Project

Gelarku Sarjanaku

Happy people is not a great man in every way, but one that can find simple things in life and give thanks diligent” (Anonim)

Saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan pendidikan saya di Dept. Kimia, Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam waktu kurang dari 4 tahun dengan predikat caumlaude. Menjadi wisudawan terbaik di periode wisuda bulan September 2015 memberikan kesempatan saya untuk menjadi wakil wisudawan dalam berpidato di depan para wisudawan/wati, wakil wisudawan/wati dan tentu para jajaran universitas. Semua ini berkat Allah Subhana wa ta’ala yang Maha berkehendak dan do’a kedua orang tua saya

Sarjana Sains yang resmi bersandang di belakang nama saya menjadi sebuah tanggung jawab menurut saya. Memang banyak sekali orang berbahagia ketika mereka  wisuda begitu pula dengan saya pribadi. Tetapi dalam hati kecil saya, masih banyak tugas dipundak ini selepas saya menyandang gelar ini. Apalagi di kampung halaman saya, orang yang mendapat gelar sarjana hanya bisa dinikmati oleh kalangan orang-orang tertentu. Hal yang sangat memprihatinkan memang, ketika pendidikan di zaman sekarang sangat sulit bisa dinikmati banyak kalangan masyarakat. Karena menurut saya dalam era persaingan global saat ini, ukuran sumber kemakmuran suatu bangsa sudah tidak ditentukan oleh sumber daya alam yang melimpah, tetapi oleh keunggulan kompetitif (competitive advantage), yakni kecerdasan, visi dan mimpi-mimpi besar, semangat pantang penyerah, dan rasa percaya pada kekuatan sendiri/kekuatan dalam negeri.

Saya memang tipe orang dengan mimpi-mimpi besar. Bukan hanya bermimpi tetapi selalu berusaha membuat mimpi itu nyata. Sedikit berbagi, di awal pertama masuk kuliah saya sudah membuat rancangan apa saja yang harus saya lakukan semasa kuliah seperti aktif mengikuti lomba, aktif berorganisasi, aktif kegiatan sosial, menjadi mahasiswa berprestasi, lulus dengan predikat caumlaude, bisa ke luar negeri dan tentu masih banyak lainnya. Dan Alhamdulillah Allah memberikan itu semua kepada saya. Saya sangat bersyukur banyak belajar dari semua kegiatan saya.

Jujur saya sampai sekarang memiliki ketertarikan di dunia pendidikan dan penelitian. Memiliki ketertarikan di dunia pendidikan, sosial dan penelitian dalam diri saya tidak lahir begitu saja. Banyak proses yang saya jalani hingga  memilih untuk tertarik dibidang-bidang tersebut. Berbagai pengalaman kompetisi, riset hibah DIKTI dan best student exchange ke beberapa negara di Asia merupakan bagian proses itu.

Mengikuti berbagai macam kompetisi merupakan pengalaman berharga bagi saya. Bertemu dengan orang-orang yang memiliki semangat untuk berprestasi dengan segala idenya, dan hal yang paling menyenangkan adalah saya bisa berkeliling di tanah air ini. Banyak kompetisi yang sering saya ikuti dan tak mudah begitu saja bagi saya untuk pulang membawa sebuah trophy. Bisa jadi kata “finalis” sudah melekat dalam diri saya di setiap kompetisi bahkan “gagal” sudah biasa bagi saya.

Memang dahulu orang tua saya mendidik saya untuk belajar dengan giat, lulus dengan pujian terbaik dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan terkenal. Memang hidup aman yang di idam-idamkan setiap orang. Tetapi saya saya sadar bahwa tugas dan tanggung jawab saya setelah saya lulus kuliah adalah bukan hanya mengsejahterakan diri sendiri dan keluarga tetapi masyarakat juga, minimal masyarakat yang ada di lingkungan sekitar saya. Hal ini yang mendorong hingga saya mencoba untuk berbagi dengan masyarakat di sekitar saya mengenal dunia sains. Dan menurut saya ada rasa bahagia tersendiri ketika saya bisa bermanfaat untuk orang lain.

Rumah Sains  merupakan rasa bersyukur saya akan ilmu dan rezeki yang selama ini saya peroleh. Mengenalkan masyarakat mengenai dunia sains memang tidak mudah apalagi kegiatan tersebut tidak mendapatkan feed back (keuntungan) bagi mereka. Tetapi saya selalu optimis dan meyakinkan mereka bahwa ini modal utama mereka untuk bisa bersaing dengan orang-orang yang ada di luar sana. Berbagai kompetisi dan riset ilmiah ini memberikan saya motivasi untuk terus berkarya. Bisa jadi, ada jutaan orang di luar sana yang sedang menunggu karya saya. Saya sangat bersyukur hingga saat ini telah mengikuti kompetisi tersebut dan membuka pikiran saya sedikit demi sedikit dan memandang bahwa sukses itu objekitf dan arti sebuah sukses tidak hanya dinilai dari meteri saja.

Terima kasih juga Abi dan Ummi yang sudah menyekolahkan saya hingga jenjang ini. Saya sangat berharap gelar sarjana dan ilmu ini bisa memberikan manfaat untuk banyak orang dan masyarakat aamiin. IMG_0628

By Al-Kaimiyah Project

Bersikap Optimis Sekalipun Dalam Sumber Badai

2012 dan sekarang 2014, artinya sudah hampir 2 tahun blog saya ini terbengkalai. Oke-lah, memulai kembali menulis di awal tahun ini. Sedikit ingin berbagi cerita pengalaman saya ketika menjajakan kaki di kota pahlawan. Ini buka pertama kali saya menjajakan kaki di sana, mungkin ke dua atau ke tiga kalinya entahlah saya lupa tepatnya. Tepatnya di penghunjung tahun 2012, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk lebih banyak belajar kembali. Memantapkan niat untuk mengikuti salah satu kompetisi menulis di Universitas Airlangga dalam ajang Airlangga Ideas Competition 2013 menghantarkan kami (saya dan teman saya) lolos hingga babak final presentasi.

Satu tantangan bagi saya ketika sedang minggu-minggu penuh ujian, tumpukan koreksian sebagai asisten dosen harus saya tinggalkan sejenak. Ketika pulang pasti sudah banyak sekali pekerjaan bagi saya. Tapi entah ada yang berbeda ketika kompetisi ini, saya begitu yakin dan mantap untuk pergi sekalipun tidak mendapat dana dari pihak universitas. Saya pernah ingat ada seseorang yang memberi nasihat kepada saya “Sebenarnya kesulitan memberi kesempatan kita untuk menjadi pribadi tangguh”. Mungkin kita berfikir bahwa hidup ini akan terasa nyaman dan bahagia jika tanpa rintangan. Padahal, setiap kesulitan yang datang, akan memberi peluang dalam memperkaya pribadi kita baik kaya ilmu, pengetahuan dan pengalaman.

Ibarat seorang pendaki gunung, saya dan teman saya hari itu siap berangkat ke surabaya dengan tekad ingin menaklukan sebuah gunung, bagaimana tidak sebuah universitas yang sering menggondong hadiah dalam lomba sejenis ini sudah siap menghadang kami layaknya sebuah gunung (agak sedikit lebay hehe). Kamis malam kami tiba di surabaya dan jumat pagi kami presentasi. Alhamdulillah tekad kami membuahkan hasil, kami pulang dengan membawa tekad kami ingin menjadi nomor 1. “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustkan (QS. Ar-Rahmaan : 13)”, hanya satu ayat ini yang tersirat di otak saya kala itu, segala puji bagi Allah yang maha berkehendak atas segala sesuatu di bumi dan di langit ini. Jujur saya dan rekan saya tidak memiliki persiapan sama sekali, ketika kami datang kami sempat melihat beberapa tim yang sedang latihan untuk presentasi besok atau merancang prototipe untuk presentasi besok. Lantas apa yang kami lakukan? Badan lusuh, muka kucel, baju bau keringkat mengejar ke surabaya selepas agenda di semarang dan paginya ujian di solo. Hanya tekad dan usaha semaksimal mungkin yang bisa di lakukan. “Bersikaplah optimis sekalipun berada dalam sumber badai”, teringat kembali sebuah tulisan itu yang menginspirasi saya. Jika kita mengatakan “aku bisa” setidaknya kita sudah menjadi sesuatu menjadi positif yang akan memberi dorongan kita untuk berhasil.Pada dasarnya bersikaplah optimis dan realistis, jangan suka mengeluh. Mengeluh menunjukan bahwa tekad dan kepribadian kita menjadi lemah. Sebaliknya, optimis akan menjadi bahan bakar pendorong yang akan mengantarkan kesuksesan. Tentu optimis yang dilengkapi dengan usaha nyata dan doa, doa pada sang maha pemberi dan maha berkuasa atas segala sesuatu di bumi dan di langit ini  🙂

Anda Bisa

By Al-Kaimiyah Project

Mahasiwa : Gali Potensi dengan Wirausaha

Menurut saya, mahasiswa yang sukses adalah mahasiswa yang mampu menemukan dan mengembangkan ide atau gagasannya dalam memanfaatkanpeluang karir dalam kehidupannya. Khususnya mahasiswa dapat mempersiapkan diri menjadi enterpreneur yang sukses. Dalam dunia wirausahasebenarnya mahasiswa berada dalam sisi yang menguntungkan. Kenapa? karena mahasiswa adalah masa yang tepat untuk menjadi dan belajar wirausaha. Karena mahasiswa tidak dianggap sebagai kompetitor ketika masuk dalam dunia enterpreneur. Tetapi sayangnya, masih banyak mahasiswa yang belum menyadari ini, masih banyak mahasiswa yang beranggapan berwirausaha ketika masih kuliah belum tepat waktunya, jadi pada intinya telah terjadi pergeseran nilai pada diri mahasiswa sekarang yang hanya mementingkan study oriented saja. Padahal semua ini melatih mental kita yang sangat penting untuk bekal ke depannya.

Jadi, jika ditelaah ermasalahan yang dihadapisekarang  oleh seorang mahasiswa yang enggan terjun ke dunia wirausaha ketika masih kuliah adalah takut mengganggu prestasi academic mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita mengambil keputusan untuk terjun ke dunia wirausaha ketika kuliah tentu saja waktu kita yang digunakan untuk belajar agak sedikit terganggu. Memang benar prestasi academic tidak bisa dilepaskan dari seorang mahasiswa. Bagaimana pun juga, prestasi academicadalah bukti nyata keberhasilan kita dalam menuntut ilmu semasa perkuliahan tentunya hal ini yang terjadi di negara Indonesia.

Oleh karena itu, saya ingin berbagi melalui tulisan ini bukankah  berwirausaha tetapi prestasi academic terus meningkat. Tentunya ini harapan semua mahasiswa. termasuk saya pribadi 😀

Menurut saya dalam berwirausaha ada dua modal yaitu iqra dan action. Iqra yang artinya baca, maksudnya adalah bacalah peluang bisnis disekitar kitadan action adalah tindakan. Selain itu juga dalam berwirausaha selalu bekerja dengan jujur dan selalu menjaga kepercayaan orang lain.

Dalam menjalankan wirausaha semasa kuliah dan tetap menjaga prestasi academic adalah dengan menjalankan wirausaha itu secara ikhlas. Maksudnya pilihlah jenis-jenis usaha yang sesuai kemampuan kita dan hobi kita. Jangan menargetkan dulu untung yang besar. memang untung adalah tujuan utama dalam suatu perdagangan atau bisnis, tetapi kontekstualnya dalam hal ini adalah kita kuliah sambil berwirausaha bukan berwirausaha sambil kuliah. Memang tampak terlihat sama tapi beda maksudnya sobat.

Kita sebagai generasi muda sekaligus sebagai agen pembaru bangsa ini, tentunya mempunyai tanggungjawab yang besar untuk menentukan nasib bangsa ini ke depannya. Mulailah detik ini rubah mind set kita bahwa kuliah yang kita jalani ini bukan hanaya semata untuk mencari pekerjaan namun ada pilihan lebih mulia dari pada sekedar bekerja yaitu membuka peluang usaha, dengan wirausaha selain akan melatih kemandirian dan kebebasan mengexplorasi potensi juga dapat membantu membuka peluang pekerjaan bagi orang lain.

Jangan belenggu potensi minat dan bakat kita, pengusaha yang sukses dapat mengangkat harkat martabat bangsa ini dari berbagai kertepurukan. salam sukses sobat.

By Al-Kaimiyah Project

Benang-Benang Ukhuwah

“Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangun dari sini, dalam dekapan ukhuwah” Salim A. Fillah

Ukhuwah ? Ikatan? apa itu sobat?

Saya sekilas ingin bercerita tentang indahnya ikatan persaudaraan dalam persahabatan. Malam kemarin saya dan rekan-rekan se AAI (Asistensi Agama Islam) di Kampus mengadakan perpisahan untuk pembimbing kita, ya beliau sudah membimbing kita selama satu tahun semenjak kita menginjakan kaki dikampus tarbiyyah ini. Banyak hal kegiatan kita selama setahun yang membuat saya dan rekan-rekan se AAI dan dengan beliau menjadi lebih akrab dan semakin kenal. Saya ingat pertama kali kami ber ta’arauf saat di Masjid Kampus tarbiyyah ini, kita saling menceritakan kepribadian kita ya sejenis CV kita lah sobat.

Mungkin banyak yang bertanya di AAI hanya ngaji saja, baca qur’a dan sebagainya? salah sobat.. ya memamng tujuan AAI seperti itu, tapi kelompok AAI kita berbeda, :p. Kami sering rihlah bareng-bareng ke Jogja, berenang bareng di Boyolali, Mabit (Malam bina iman dan taqwa) di Masjid, makan bareng sambil AAI dan lain-lain yang tak bisa saya tuliskan satu persatu.

Kenapa kita harus mengadakan perpisahan dengan beliau? Ya sebenarnya ini hanya simbolis saja, perpisahan ini bukan berarti satu langkah untuk berhenti dalam kebaikan. Simbolis sekalian ucapan selamat saja pada beliau yang kini sudah di wisuda (semoga saya cepat menyusul di wisuda aamiin) 🙂

Sebab Rasulullah Shalallahu A’laihi Wassalam mengajarkan supaya kita memiliki sikap peduli terhadap saudara kita. Sering kita temui, orang yang acuh tak acuh melihat kekurangan dan pendiritaan yang menimpa orang lain, bahkan terhadap saudara sendiri. Padahal dia orang yang berkecukupan. Cara ini bukan amalan Allah Subhana Wa Ta’ala yang memandang kekayaan seseorang bukan dari jumlah hartanya dan bukan karena kedudukan jabatannya yang tinggi.

Tetapi orang yang kaya empati, kaya budi pekerti, kaya peduli itulah orang yang kaya di mata Allah Subhana Wa Ta’ala. Prinsip dasarnya jka kita ingin menjadi orang yang diperhatikan, maka perhatikanlah orang lain. Jika kita ingin Allah memberi pertolongan, berbuat baiklah pada sesama.

 

Semoga hubungan-hubungan ini akan menjadi benang ukhuwah diantara kita dengan jarak yang seadil-adilnya.

By Al-Kaimiyah Project

Selamat Datang Semester 3, AKU BISA !!

Malam ini tak seperti biasanya. Saya kembali ke kota perantauan di kota budaya ini, Kota Solo. Banyak amanah yang harus saya kerjakan di sini, tidak bisa santai, santai boleh saja asal jangan kesantaian. Salah satu amanahnya adalah belajar. Disini saya yang berstatus masih pelajar/mahasiswa, memiliki amanah yang cukup besar dari orang tua yang berada dirumah sana. Bukan hal itu saja yang membuat malam ini berbeda. Ada hal yang istimewa yaitu saya menginjakan di “SEMESTER 3”. memangnya ada apa dengan “SEMESTER 3”? bukankah sama saja dengan semester-semester sebelumnya? Jawabnya mungkin ya.
Tetapi, telinga saya sudah banyak mendengar dari kakak tingkat di jurusan saya, bahwa di semester ini ada salah satu dosen atau guru besar tepatnya yang sangat mengutamakan kesempurnaan , alias harus perfect. But I will keep enjoy to do it.

Biarlah berita yang saya dengar ini sebagai suatu motivasi saya dalam menghadapi semester ini ke depannya, tidak terlalu banyak main-main dan sebagainya. Walaupun berita yang saya dengar ini membuat saya agak sedikit takut dan khawatir, tapi biarkanlah rasa takut dan  khawatir ini menjadi rasa tanggung jawab saya ke depannya. All is Well. hehe 🙂

Saya sangat yakin jika kita memulai sesuatu dengan pikiran yang positif dengan mengatakan “Saya Bisa” pasti kita bisa. karena itu merupakan suatu awal yang positif. Sesuatu yang dimulai dengan awal yang positif akan menumbuhkan semangat dan tekad yang tulus, sehingga tujuan dan cita-cita akan tercapai. Sebaliknya jika kita memulainya dengan hal yang negatif, jangankan semangat, jangankan berhasil yang ada kita terus mengeluh atau pesimis. Bagaimana kita akan berhasil jika awalnya saja sudah dimulai dengan hal yang buruk ?

Saya yakin jika optimis dilengkapi dengan tekad yang tulus, maka usaha yang akan kita lakukan sudah memiliki pendorong yang ampuh. Kita akan termotivasi, meski pada saat yang genting atau galau bahasa zaman sekarang.

Jadi, ayat Al-Qur’an yang memotivasi saya malam ini :
“Sesunggunya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d :11)

SELAMAT DATANG SEMESTER 3, SAYA BISA !!

By Al-Kaimiyah Project